Pengertian Sistem
Definisi sistem menurut Jogiyanto (2008 : 1-2) dapat dilihat dari dua kelompok pendekatan yaitu
yang menekankan pada prosedur dan yang menekankan pada komponen atau elemennya.
1.
Berdasarkan penekanan prosedur sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk
melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
2.
Berdasarkan penekanan komponen sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang
berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Karakteristik Sistem
(Krismiaji 2010:1) menyatakan, suatu system memiliki tiga karakteristik,
yaitu:
1.
Komponen, merupakan sesuatu yang dapat dilihat,
didengar, atau dirasakan.
Gambar 2.1 Komponen Sistem (Anastasia Diana dan LilisSetiawati, 2012:4)
Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2012:4) menyatakan bahwa, “komponen system terdiri atas input, proses dan output. Input
adalah data-data yang relevan untuk menghasilka ninformasi yang diinginkan. Proses adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengolah
data menjadi informasi. Sedangkan
output adalah berupa informasi yang merupakan hasil dari pemrosesan data.”
2.
Proses, yaitu kegiatan untuk mengkoordinasikan komponen yang terlibat dalam suatu sistem.
3.
Tujuan, yaitu sasaran akhir yang ingin dicapai dari kegiatan koordinasi komponen tersebut.
Tujuan Sistem Akuntansi
Terdapat beberapa tujuan sistem
Akuntansi menurut para ahli, diantaranya:
1.
Mulyadi (2010:19) adalah :
1.
Untuk menyediakan informasi bagi pengelolaan kegiatan
usaha baru. Kebutuhan pengembangan sistem akuntansi terjadi jika
perusahaan baru didirikan atau suatu perusahaan menciptakan usaha baru yang
berbeda dengan usaha yang telah dijalankan selama ini.
2.
Usaha untuk meningkatkan kualitas informasi yang
dihasilkan. Informasi akuntansi dianggap memiliki kualitas tinggi apabila
informasi yang bersangkutan bersifat relevan, tepat waktu, mempunyai daya
saing, teruji kebenarannya, mudah dipahami dan lengkap.
3.
Untuk meningkatkan pengendalian akuntansi dan
pengecekan intern, yaitu untuk memperbaiki tingkat keandalan (reliability) informasi akuntansi dan
untuk menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban dan perlindungan
kekayaan perusahaan. pengembangan sistem akuntansi dapat pula ditujukan
untuk memperbaiki pengecekan intern agar informasi yang dihasilkan sistem
tersebut dapat dipercaya.
4.
Untuk mengurangi biaya klerikal dalam pemyelenggaraan
catatan akuntansi. Pengembangan sistem akuntansi seringkali ditujukan
untuk menghemat biaya. Informasi merupakan barang ekonomi, untuk
memperolehnya diperlukan pengorbanan sumber ekonomi lainnya. Oleh karena
itu, dalam menghasilkan informasi perlu dipertimbangkan besarnya manfaat yang
diperoleh dengan pengorbanan yang dilakukan. Jika pengorbanan untuk
memperoleh informasi keuangan diperhitungkan lebih besar dibandingkan
dengan manfaat yang diperoleh, sistem yang sudah ada perlu dirancang kembali
untuk mengurangi pengorbanan sumber daya yang bagi penyediaan informasi..
2.
Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011:5)
1.
Mengamankan harta atau kekayaan. Harta atau kekayaan
disini meliputi ksa perusahaan, persediaan barang termasuk asset tetap
perusahaan.
2.
Menghasilkan beragam informasi untuk pengambilan
keputusan.
3.
Menghasilkan informasi untuk pihak eksternal. Misalnya
untuk pembayaran pajak, utang piutang dengan pihak ketiga bisa bank atau
lainnya, ataupun koperasi simpan pinjam.
4.
Menghasilkan informasi untuk penilaian kinerja
karyawan atau divisi.
5.
Menyediakan data masa lalu untuk kepentingan audit
(pemeriksaan).
6.
Menghasilkan informasi untuk penyusunan dan evaluasi
anggaran perusahaan
7.
Menghasilkan informasi yang diperlukan dalam kegiatan
perencanaan dan pengendalian.
Pengguna Sistem Akuntansi
Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011:11)
mengatakan, Pihak-pihak yang memanfaatkan sistem akuntansi perusahaan terdiri
atas :
1.
Pihak internal perusahaan. Kelompok ini terdiri dari
para manajer yang didalam kapasitasnya di perusahaan memerlukan informasi
sesuai bentuk tugas dan tanggung jawabnya, mereka membuat keputusan berdasarkan
data dan informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi. Apabila informasi
yang mereka peroleh dapat menunjang tugasnya, maka kinerja perusahaan akan
meningkat.
2.
Pihak eksternal. Kelompok ini adalah pihak-pihak di
luar perusahaan memiliki kepentingan dengan perkembangan perusahaan, posisi
mereka adakalanya menentukan terhadap eksistensi perusahaan ke depan. Mereka
memerlukan informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi, mereka berada
diluar perusahaan, seperti pemegang saham, kreditor, dan masyarakat umum.
Prosedur
PengertianProsedur
Prosedur penting dimiliki bagi suatu organisasi agar segala sesuatu dapat dilakukan secara seragam,
yang pada akhirnya prosedur
akan menjadi pedoman bagi suatu organisasi dalam
menentukan aktivitas apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan suatu
fungsi tertentu.
Berikut ini pengertian prosedur menurut beberapa ahli :
Menurut Susanto (2008 : 264)
menjelaskan bahwa :
“Prosedur adalah
rangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan
cara yang sama. Prosedur penting dimiliki bagi suatu organisasi agar segala
sesuatu dapat dilakukan secara seragam.”
Karakteristik
Prosedur
Adapun karakteristik prosedur menurut Mulyadi (2008: 6)
yaitu:
1.
Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.
2.
Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang
baik dan menggunakan biaya seminimal mungkin.
3.
Prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.
4.
Prosedur menunjukan adanya penetapan keputusan dan tanggung jawab.
5.
Menunjukan tidak adanya keterlambatan atau hambatan.
Fungsi yang Terkait
Menurut Tambunan
(2013:148), “Hal yang terpenting yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu prosedur adalah pihak atau unit atau fungsi
yang terlibat di dalam prosedur
yang bersangkutan.”
Dokumen yang Digunakan
Menurut Mulyadi (2008:3) “Formulir sering disebut dengan istilah dokumen,
karena dengan formulir ini peristiwa
yang terjadi dalam organisasi direkam (didokumentasikan) di atas secarik kertas.
Selanjutnya Mulyadi (2008:75) menyatakan bahwa“
Formulir tersebut berisi informasi
yang telah tercetak, misalnya nomor urut formulir dan nama formulir.”
Pendistribusian suatu dokumen di dalam suatu sistem,
digambarkan dalam suatu bagan alir dokumen (flowchart).
Menurut Krismiaji (2010:71)
“Bagan Alir merupakan teknik analitis yang digunakan untuk menjelaskan aspek-aspek system informasi secara jelas,
tepat, dan logis.”
Menurut
Mulyadi (2010: 60-63) simbol-simbol
yang terdapat dalam flowchart serta arti dan kegunaan simbol tersebut adalah
sebagai berikut:
|
Simbol
|
Nama
|
Keterangan
|
|
|
Dokumen
|
Digunakan untuk semua jenis dokumen
yang merupakan formulir
untuk merekam transaksi.
|
|
|
Dokumen rangkap
|
Menggambarkan dokumen asli dan
tembusannya.
|
|
|
Berbagai dokumen
|
Menggambarkan berbagai jenis
dokumen
yang digabungkan bcrsama
dalam satu paket.
|
|
|
Penghubung pada
halaman yang
sama
|
Menggambarkan alir dokumen dibuat mengalir dari atas
ke bawah dan dari kiri kekanan. Simbol penghubung
yang memungkinkan
aliran dokumen berhenti di suatu lokasi pada halaman tertentu dan kembali berjalan
pada halaman yang sama.
|
|
|
Penghubung
pada Halaman
yang berbeda
|
Untuk menggambarkan bagan alir
dokumen suatu
sistem diperlukan lebih dari satu halaman.
|
|
|
Kegiatan manual
|
Untuk menggambarkan kegiatan manual seperti :
menerima order, mengisi formulir,membandingkan dll
|
|
|
Arsip permanen
|
Menunjukkan tempat penyimpanan
dokumen
secara permanen yang
tidak akan diproses lagi
|
|
|
Catatan
|
Menggambarkan caiatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat data vang direkam sebelumnya di dalam
Dokumen
|
|
|
Keying, Typing
|
Menggambarkan pemasukan data ke
dalam komputer melalui on-line terminal
|
|
|
Punched Tape
|
Menggambarkan arsip komputer yang
berbentuk
pita magnetik
|
|
|
DirectAccess Storage
|
Untukpenyimpanan
data base
|
|
|
Keputusan
|
Menggambarkan keputusan yang
harus dibuat dalam
proses pengolahan data. Keputusan yang
dibuat ditulis dalam simbol
|
|
|
Garis alir
|
Menggambarkan arah proses
pengolahan data
|
|
|
Mulai/berakhir
|
Menggambarkan awal dan akhir suatu
sistem akuntansi
|
|
|
Keterangan/komentar
|
Untuk menambahkan komentar agar pesan yang disampaikan
lebih jelas
|
Tabel 2.1. Simbol-simbol flowchart
Sumber: Mulyadi: Sistem Akuntansi, Salemba Empat, Bandung
2010
Pengendalian
Internal
Pengertian Pengendalian
Internal
Warren Reeve Fess (2008:226) dalam bukunya menyatakan bahwa
“Pengendalian atau control merupakan seluruh kegiatan untuk mengarahkan operasi mereka, melindungi aktiva dan mencegah penyalahgunaan system dalam perusahaan.”
Unsur-Unsur Sistem Pengendalian
Internal
Unsur pengendalian intern
menurut Warren Reeve Fess (2008 :
209) adalah sebagai berikut:
1.
Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian suatu perusahaan mencakup seluruh sikap manajemen dan karyawan mengenai pentingnya pengendalian. Manajemen harus menekankan pentingnya pengendalian dan mendorong dipatuhinya kebijakan pengendalian akan menciptakan lingkungan pengendalian yang efektif.
2.
Penilaian Resiko
Semua organisasi menghadapi resiko. Contoh-contoh resiko meliputi perubahan-perubahan tuntutan pelanggan,
ancaman persaingan, perubahan peraturan, perubahan faktor-faktor ekonomi seperti suku bunga,
dan pelanggaran karyawan atas kebijakan dan prosedur perusahaan. Manajemen harus memperhitungkan resiko ini dan mengambil langkah penting untuk mengendalikannya sehingga tujuan dari pengendalian
internal dapat dicapai. Setelah resiko diidentifikasi,
maka dapat dilakukan analisis untuk memperkirakan besarnya pengaruh dari resiko tersebut serta tingkat kemungkinan terjadinya, dan untuk menentukan tindakan-tindakan yang akan meminimumkannya.
3.
Prosedur pengendalian
1. Prosedur pengendalian ditetapkan untuk memberikan jaminan yang wajar bahwa sasaran bisnis akan dicapai, termasuk pencegahan penggelapan,
Ada baiknya juga bila dilakukan perputaran atau rotasi tugas di antara karyawan klerikal dan mengharuskan para karyawan non klerikal untuk mengambil cuti. Kebijakan ini mendorong para karyawa nuntuk menaati prosedur yang digariskan. Disamping itu, kesalahan atau penggelapan dapat dideteksi.
2. Pemisahan tanggung jawab untu koperasi yang berkaitan. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ketidakefisienan, kesalahan dan penggelapan,
maka tanggung jawab untuk operasi yang berkaitan harus dibagi kepada dua
orang atau lebih.
3. Pemisahan operasi, pengamanan aktiva dan akuntansi. Kebijakan pengendalian harus menetapkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas berbagai aktifitas usaha. Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya kesalahan dan penggelapan, maka tanggung jawab atas operasi, pengamanan aktiva dan akuntansi harus dipisahkan.
Selanjutnya, catatan akuntansi akan digunakan sebagai alat pengecekan independen terhadap mereka yang
bertugas mengamankan aktiva dan mereka yang berkecimpung dalam operasi usaha.
4. Prosedur pembuktian dan pengamanan. Prosedur pembuktian dan pengamanan harus digunakan untuk melindungi aktiva dan memastikan bahwa data akuntansi dapat dipercaya. Hal ini dapat diterapkan pada banyak hal seperti prosedur otorisasi, persetujuan dan rekonsiliasi.
5.
Pemantauan atau
monitoring
Pemantauan terhadap system pengendalian
internal akan mengidentifikasi dimana letak kelemahannya dan memperbaiki efektivitas pengendalian tersebut. Sistem pengendalian
internal dapat dipantau secara rutin atau melalui evaluasi khusus. Pemantauan rutin bisa dilakukandengan mengamati perilaku karyawan dan tanda-tanda peringatan dari system akuntansi tersebut.
6.
Informasi dan komunikasi
Informasi dan komunikasi merupakan unsure dasar dari pengendalian
internal.Informasi mengenai lingkungan pengendalian, penilaian resiko,
prosedur pengendalian dan pemantauan diperlukan oleh manajemen untuk mengarahkan operasi dan memastikan terpenuhinya tuntutan-tuntutan pelaporan serta peraturan
yang berlaku.
Tujuan Pengendalian Internal
Pengendalian
internal dalam suatu perusahaan akan dijalankan dengan seefektif mungkin oleh
seluruh anggota yang terdapat pada suatu perusahaan itu sendiri. Adapun tujuan
dari dibentuknya sistem pengendalian internal menurut mulyadi (2008 : 163) adalah
sebagai berikut :
1. Menjaga kekayaan organisasi
Harta milik perusahaan ada kemungkinan di salah gunakan atau dirusak kecuali
jika dilindungi dengan baik. Pengamanan harta milik perusahaanmeliputi
pengawasan secara fisik maupun secara akuntansi.
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data
akuntansi
Didalam menjalankan tugasnya manajer perlu memahami informasi yangcermat,
tepat dan dapat dipercaya. Pengawasan intern di pandang untuk memberikan
jaminan proses pengolahan data akuntansi untuk menghasilkan intern akuntansi yang
diteliti handal. Data akuntansi mencerminkan perubahan kekayaan perusahaan,
maka ketelitian dan data akuntansi yang menginformasikan pertanggung jawaban
penggunaan harta perusahaan.
c. Mendorong efisiensi
Pengawasan intern dalam perusahaan ditujukan untuk mencegah duplikasiusaha
yang tidak perlu atau setidak-tidaknya dapat mencerminkan terjadinyapemborosan
sumber daya yang tidak efisien.
1. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Untuk mencapai tujuan, manajer mengadakan prosedur atau aturan pelaksanaan.
System pengawasan intern dimaksudkan untuk meyakinkan manajer bahwa semua
prosedur yang telah di gariskan dengan mudah dapat diprediksi dan
diidentifikasi serta manajer dapat dengan mudah melaksanakan tindakan
pengesahan dan perbaikan dengan cepat dan tepat apabila terjadi penyimpangan.
Romney dan Steinbart (2006:196) menyatakan berdasarkan
COSO, tujuan system pengendalian intern adalah:
1. Menghasilkan laporan keuangan yang dapat
dipercaya
2. Menghasilkan operasi yang efektif dan
efisien
Memenuhi hukum dan peraturan yang ditetapkan
Penerimaan kas
Pengertian
Kas
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam PSAK (2009:22)
memberikan definisi kas sebagai berikut :
“Kas
terdiri dari saldo kas (cash on hand)
dan rekening giro. Setara kas adalah investasi yang sifatnya liquid berjangka
pendek dan yang sengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa
menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan”.
Pengertian Penerimaan Kas
Menurut Menurut Widanaputra (2009:92)
Kas merupakan akun yang penting dalam operasional
suatu hotel, tanpa ditunjang dengan kas yang memadai akan dapat mengganggu
kelancaran aktivitas operasional suatu hotel, karena kas juga sebagai modal
kerja yang sangat menunjang kelangsungan aktivitas keseharian sutau hotel, suatu hotel dalam operasional nya memerlukan
dana yang tidak sedikit, dimana dana tersebut akan digunakan untuk membiayai
semua pengeluaran yang disediakan sebagai fasilitas tamu selama menginap, dan
dana tersebut baru bias diperoleh kembali oleh perusahaan setelah tamu yang
menginap atau menggunakan fasilitas hotel sudah melakukan pembayaran .
Hampir sebagian besar tamu yang
menggunakan agen akan menunda pembayaran sampai mereka selesai menggunakan
fasilitas yang ada, kecuali tamu yang datang secara individu (walk in) biasanya memberikan pembayaran dimuka sebagai uang muka (deposit). Penerimaan kas biasa berupa
penerimaan hasil penjualan tunai dari
outlet,hasil penjualan yang diterima from
office saat tamu check out, dan
hasil pengumpulan piutang dari agen.
Sistem Akuntansi Penerimaan Kas
Menurut Mulyadi (2009:455),
Sumber penerimaan kas terbesar suatu perusahaan dagang, seperti took
buku berasal dari transaksi penjualan tunai mendasarkan sistem pengendalian
intern yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan :
1.
Penerimaan kas dalam bentuk tunai harus segera
disetor ke bank dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain kasir
untuk melakukan internal check.
2.
Penerimaan kas dari penjaualan tunai
dilakukan melalui transaksi kartu kredit, yang melibatkan bank penerbit kartu
kredit dalam pencatatan transaksi penerimaan kas.
Pengertian hotel
Bagi
wisatawan, hotel sebagi tempat penginapan diharapkan terwujud seperti rumah
ideal atau a home away from home. Dihotel
, para wisatawan dapat menyendiri, istirahat merebahkan diri, dan dengan mata
mengawang sambil mendengarkan alunan
music yang lembut sambil menguas segala yang menyenagkan selama berwisatawan
apabila yang melayani adalah orang-orang yang andal berwajah cerah, penuh
dengan senyum persahabatan dank ekeluargaan, serta adanya fasilitas penunjang
pariwisata yang lengkap.
Widanapura (2009;20), mengatakan “hotel adalah suatu perusahaan yang
dikelolaoleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makan, minuman dan
fasilitas kamar untuk tidur kepada orang – orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu
membayarnya dengan jumlah yang wajar
sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus. “
AHMA ( AMERICAN HOTEL & MOTEL ASSOCIATION), “hotel adalah suatu
tempat yang menyediakan tempat menginap, makanan dan minuman, dan pelayanan
lainnya untuk di sewakan kedapa tamu
atau orang – orang tinggal sementara waktu. “
Berdasarkan surat keputusan menparpostel NO. KM 37/PW.340/MPPT- 86,
Peraturan usaha dan penggolongan hotel menyebutkan suatu jenis akomodasi yang
mepergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan,
makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang di kelola
secara komersial.
Pengertian hotel menparpostel
tersebut, membedakan pengertian penginaman atau losmen, dimana dalam keputusan
tersebut dijelaskan bahwa penginapan atau losmen tidak termasuk pengertian
hotel. Penginapan atau losmen adalah
suatu usaha komersial yang menggunakan sebagaian atau seluruh dari bangunan
yang khusus disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan sewa kamar
untuk menginap. Dengan demikian bedanya dengan hotel adalah penginapan tidak
menyediakan pelayanan makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya.
Dapat ditarik kesimpulan bawa hotel adalah usaha komensasi yang
menyediakan tempat menginap, makanan, dan pelayanan – pelayanan lain untuk
umum.
Widanapura
(2009;22) Dari seluruh rumusan dan pengertian di atas , maka yang dimaksud
dengan hotel adalah suatu badan usaha yang bergeraK dibidang jasa dan di
dalamnya terdapat beberapa unsur pokok
yang terkandung dalam pengertian hotel, yaitu :
1.
Suatu jenis akomodasi.
2.
Menggunakan sebagian atau seluruh bangunan yang
ada.
3.
Menyediakan
fasilitas pelayanan jasa penginapan,
4.
Menyediakan makan dan minuman serta jasa
penginapan ,
5.
Fasilitas dan pelayanan tersebut disediakan
untuk para tamu dan masyarakat umum yang menginap.
6.
Berfungsi sebagai tempat sementara.
7.
Dikelola secara komersial.
Widanapura (2009;24), Industry hotel terdiri dari
beberapa jenis operasi yang berbeda yang menyediakan produk dan jasa pada klien
atau tamu. Ada beberapa karaktreristik dari industry hotel (gray,1996), yaitu :
1.
Usaha musiman (seasonality of business), yang
ditunjukan dengan fluktuasi dalam volume pemjualan pada saat peak
season (Agustus, September dan desember dan off season (maret, april, dan mei ).
2.
Mempunyai rantai distribusi dan rentang waktu
yang pendek, seperti dalam operasi jasa makanan, dimana bahan mentah diolah
menjadi produk jadi kemudian dijual dan menjadi kas waktu yang relative
singkat, sehingga investasi pada persediaan nilainya minimal (biasanya berkisar
antara 5% dari total aktiva).
3.
Merupakan industri yang menggunakan tenaga kerja
secara intensif, dimana memberikan pelayana yang cepat, fasilitas pelayanan
selama 24 jam, mengutamakan kepuasan tamu ,sehingga dari hal tersebut beban
gaji menjadi elemen utama dalam kos penjualan.
4.
Investasi pada industry hotel sebagian besar
dalam aktiva tetap, seperti kos konstruksi, furniture, elektronik dan lain – lainnya (biasanya berkisar 55% - 85%
dari total aktiva).
Jenis
Penggolongan Hotel Atau Klasifikasi Hotel
Klasifikasi atau penggolongan hotel
adalah suatau system pengelompokan hotel kedalam bebagai kelas atau tingkatan,
berdasarkan ukuran penilaian tertentu. Hotel dapat dikelompokan kedalam
berbagai criteria menurut kebutuhannya, namun ada beberapa criteria yang
dianggap paling lazim di gunakan. Sistem klasifikasi hotel di dunia berlainan
antara Negara yang satu dengan Negara yang lain. Sebagai contoh Negara tiongkok
menggunakan klasifikasi : tourist class, standart & super class. Negara
Bulgaria, kolombo, equador, Syria, Kuwait menggunakan klasifikasi hotel kelas
A, B,C,D dan E.
Di Indonesia pada tahun 1977, dengan keputusan menparpostel No. PM.10/PW,301/Pdb – 77 tentang usaha dan
klasifikasi hotel, ditetepkan bahwa penilaian klasifikasi hotel secara minimum
didasarkan pada :
1.
Jumlah kamar
2.
Fasilitas
3.
Peralatan
4.
Mutu pelayanan
Bedasarkan pada penilaian tersebut
hotel – hotel di Indonesia kemudian digolongkan ke dalam 5 (lima) kelas hotel,
yaitu : bintang satu sampai bintang lima.
Widanapura
(2009;32) Tujuan dari klasifikasi atau penggolongan hotel secara umum adalah:
1.
Sebagai pedoman teknis bagi calon investor untuk
memilih investasi nya dibidang usaha perhotelan apakah pada hotel berbintang
atau melatai.
2.
Memberikan informasi kepada para tamu yang akan
menginap dihotel tentang standart fasilitas yang dimiliki oleh masing – masing
jenis dan tipe hotel.
3.
Agar tercipta suatu persaingan yang sehat antara
pengusaha hotel.
4.
Supaya tercipta keseimbangan antara permintaan (supply) dan penawaran (demand) dalam usaha perhotelan.
Penerimaan Kas Atas Jasa Penginapan
Penerimaan kas atas jasa penginapan
hotel merupakan aktivitas utama dalam bidang jasa perhotelan, karena hotel
merupakan tempat terjadinya jasa penginapan maka hotel dalam aktivitasnya akan
memungut tariff atas jasa penginapan tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar