Kondisi pul bus Transjakarta di Cawang, Jakarta Timur, jauh dari layak. Garasi moda transportasi ini hanya hamparan padang gersang dengan ilalang di mana-mana.
"Jauh dari layak," kata teknisi Transjakarta, Yudi, bukan nama sebenarnya, pada Selasa, 2 September 2014. Menurut dia, para montir bekerja dengan kondisi serba kekurangan. Jangan dibayangkan mereka bekerja di dalam bengkel khusus dengan peralatan memadai.
Para teknisi bekerja di bawah sengat matahari di padang gersang tersebut, tidak ada kanopi laiknya bengkel. Untuk masuk ke kolong bus, mereka mesti merangkak, beradu kulit dengan kerikil. Jika hujan mengguyur kawasan tersebut, mereka harus siap berjibaku dengan lumpur.
Peralatan yang mereka miliki juga minim. Tidak ada dongkrak besar untuk bus. Kompresor untuk membersihkan bagian mesin pun tak ada.
Bahkan rombongan kambing milik warga sekitar kerap terlihat masuk ke dalam bus yang sedang diparkir di pul. Kondisi semacam ini, tutur Yudi, cukup berpengaruh terhadap perawatan bus. "Misalnya, bus bermesin otomatis yang seharusnya dikerjakan di ruang minim debu," ujarnya.
Bahkan, saat malam hari, tutur dia, tidak ada penerangan yang memadai untuk melakukan pengecekan bus. Mereka hanya menggunakan penerangan ala kadarnya dari senter.
Minimnya fasilitas di bengkel Transjakarta ini diakui Yudi menyebabkan perawatan kurang maksimal. Faktanya, pada Agustus lalu, dari 126 unit bus yang mereka kelola sendiri, 70 di antaranya tidak beroperasi.
Bahkan Yudi mengaku faktor kesehatan dan keselamatan kerja (K3) juga minim. "Bayangkan, kami tidak dapat kacamata pelindung atau sarung tangan," ujarnya.

0 komentar:
Posting Komentar