We are Comes for Education Consultant
Sabtu, 29 November 2014
15-cara-agar-hidup-bahagia-dan-semangat
1.
Tidak bangga (ujub) dengan perkataan/perbuatan baik yang kita lakukan.
Sebaliknya, kita harus meyakini orang lain lebih baik dari kita.
Katakanlah dengan hati / lisan kita : Orang lain lebih baik daripada
saya. Setiap orang memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Orang yang
hari ini berlumuran dosa, bisa
jadi esok lebih baik dari kita. Dengan perasaan seperti ini, kita akan
selalu merasa senang bertemu dengan siapapun.
2. Niat karena Allah dalam beramal. Tidak
ingin / suka / butuh - pujian / penghormatan / penghargaan /
popularitas . Segala pujian dikembalikan kepada Allah. Tidak menunggu
ucapan terima kasih/balasan atas perbuatan baiknya. Berbuat baik bukan
karena takut celaan manusia. Tetap berbuat baik meski mendapat celaan
dari manusia. Tidak ikhlas akan menimbulkan kekecewaan dalam jiwa.
3. Mengucapkan dzikir, doa, dan kalimat positif, dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Arab, dalam hati. Bisa dimulai dengan sering menyebut Laa ilaaha illalloh dalam hati.
Keinginan maksiat berawal dari hati. Bila hati sering
dzikir/doa/kalimat positif maka otomatis keinginan maksiat tidak muncul.
Keinginan maksiat menimbulkan kegelisahan / penderitaan dalam jiwa
seseorang.
4. Mengucapkan dzikir, doa, dan kalimat positif, dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Arab, dengan lisan, untuk mendapatkan kenikmatan iman / kebahagiaan jiwa.
5. Membaca al-qur’an dan faham artinya (bisa dibeli qur’an terjemahan per kata) agar mendapatkan kenikmatan iman / peningkatan iman / kebahagiaan.
6. Shalat awal waktu, untuk menstabilkan iman. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman.
7. Suka memberi infak dan hadiah, agar tidak cinta harta. Kecintaan kepada harta menimbulkan rasa takut akan kehilangan harta.
8.
Belajar sepanjang hari, agar terhindar dari kesia-siaan waktu (termasuk
hari Sabtu/Minggu/hari libur). Belajar bisa dalam bentuk membaca
kembali catatan pelajaran, menggarisbawahi kata-kata pentingnya,
mengingat-ingat dengan melihat kata-kata pentingnya, mengerjakan
soal-soalnya, menghafal rumus-rumusnya, atau mempelajari pokok bahasan
baru. Menyia-nyiakan waktu menyebabkan pikiran kemana-mana, dan akhirnya
menimbulkan rasa cemas akan keadaan hidup kita di masa akan datang.
9. Puasa sunnah, agar lebih bisa mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak terkendali menimbulkan kegelisahan jiwa.
10.
Shalat tahajud, agar tergolong orang-orang yang shaleh. Orang-orang
yang shaleh pasti bahagia hidupnya di dunia dan di akhirat.
11.Taat
kepada pemimpin, kecuali bila disuruh berbuat maksiat. Ketidaktaatan
bersumber dari kesombongan diri dan ketidakmampuan mengendalikan
keinginan pribadi. Akibatnya hidup menjadi rumit. Bila pemimpin
bermusyawarah sebelum memberikan perintah tentu lebih baik, tetapi tidak
semua hal harus dimusyawarahkan.
12.Menjaga wudhu semampunya. Dengan menjaga wudhu menjadi lebih berkeinginan beramal shalih dan enggan berbuat maksiat.
13.Kita sudah memahami bahwa berbuat baik dan tidak berbuat maksiat akan
menimbulkan kebahagiaan pada diri seseorang. Karena itu, agar orang
lain juga bahagia, maka kita harus punya kemauan kuat untuk mengajak /
memerintahkan kebaikan dan mencegah kemaksiatan / kemunkaran. Kita akan
makin bahagia bila orang lain bahagia dengan perantaraan kita.
14.Bila
sempat, tulislah apa yang ingin kita kerjakan meskipun mungkin sebagian
tidak terlaksana. Bila ada hal-hal tertentu yang harus terlaksana, maka
berdoalah agar Allah menolong kita. Hiduppun menjadi lebih bersemangat
karena kita terus beraktifitas.
15.
Jangan lelahkan hati kita dengan menanti nikmat yang belum ada dan
belum tentu ada. Syukuri nikmat-nikmat yang ada. Kita belum tentu bisa
bersyukur bila Allah menambah nikmatNya.
0 komentar:
Posting Komentar